Nikah Sederhana Bukan Memalukan: Yang Memalukan Itu Maksiat dan Utang
Di tengah mahalnya biaya hidup dan tekanan media sosial, banyak anak muda mulai merasa bahwa menikah adalah sesuatu yang berat. Bukan karena mereka tidak ingin menikah, tetapi karena mereka takut tidak mampu mengadakan pesta besar.
Padahal kalau dipikir-pikir, yang diwajibkan dalam agama adalah menikahnya, bukan kemewahan pestanya.
Belakangan ini ramai sebuah konten dari akun Instagram mental_juara.id
yang mengambil sumber dari TikTok pasangan muda yang menikah dengan konsep sederhana. Meski kemudian muncul komentar dari pemilik foto bahwa konten tersebut diunggah ulang tanpa izin, semangat yang dibawa tetap terasa inspiratif dan layak menjadi pelajaran bagi generasi muda.
Pasangan tersebut memperlihatkan rincian sederhana biaya pernikahan mereka:
- Baju pengantin satu set pria & wanita + make up: Rp800.000
- Hand bouquet: Rp80.000
- Nail art: Rp85.000
- Dekorasi sederhana gotong royong bersama teman: Rp300.000
- Makan keluarga dan tetangga: sekitar Rp5.000.000
- Total: sekitar Rp6.915.000
Dan akhirnya mereka bisa mengatakan satu kalimat yang sederhana namun indah:
“Alhamdulillah sah.”
Generasi yang Takut Menikah
Hari ini banyak anak muda sebenarnya sudah siap menikah:
- siap bertanggung jawab
- siap bekerja
- siap belajar menjadi pasangan
- siap hidup sederhana
Tetapi mereka takut pada satu hal:
standar sosial.
Takut dianggap gagal kalau:
- tidak memakai gedung mewah
- tidak memakai dekorasi mahal
- tidak mengundang ratusan orang
- tidak memakai WO premium
- tidak membuat pesta besar
Padahal setelah pesta selesai, yang menjalani rumah tangga bukan tamu undangan.
Yang menanggung cicilan bukan netizen.
Dan yang pusing membayar utang bukan orang-orang yang datang makan prasmanan.
Yang Memalukan Itu Maksiat dan Utang
Ada pola pikir yang perlu diluruskan.
Sebagian orang malu menikah sederhana, tetapi tidak malu:
- pacaran bertahun-tahun tanpa kepastian
- hidup dalam hubungan yang tidak halal
- berutang demi gengsi pesta
- memaksakan diri di luar kemampuan
- memulai rumah tangga dengan tekanan finansial
Padahal kenyataannya:
Nikah sederhana jauh lebih terhormat daripada pesta mewah hasil pinjaman.
Sederhana bukan berarti gagal.
Sederhana justru tanda seseorang paham prioritas hidup.
Islam Tidak Memberatkan Pernikahan
Dalam Islam, walimah memang dianjurkan. Tetapi syariat tidak menjadikannya ajang pamer kekayaan.
أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ
“Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat ini sangat dalam maknanya.
Artinya:
- walimah itu baik
- berbagi kebahagiaan itu dianjurkan
- menjamu tamu itu mulia
- tetapi tidak harus berlebihan
- tidak harus memaksakan diri
- tidak harus demi validasi sosial
Seekor kambing saja sudah cukup menjadi simbol rasa syukur dan pengumuman pernikahan.
Konflik Gen Z dan Generasi Orang Tua
Salah satu komentar yang ramai dibahas mengatakan:
“Ini tipe pernikahan yang paling dibenci generasi boomer.”
Mungkin terdengar berlebihan, tetapi ada benarnya juga.
Banyak pasangan muda sebenarnya sudah sepakat ingin menikah sederhana. Namun orang tua kadang menginginkan pesta yang lebih besar demi:
- menjaga nama keluarga
- tradisi sosial
- balas undangan
- gengsi lingkungan
- atau karena merasa menikahkan anak adalah momen sekali seumur hidup
Akhirnya budget membengkak bukan karena kebutuhan inti, tetapi karena ekspektasi sosial.
Padahal jika dari awal ada musyawarah:
- siapa membayar apa
- batas kemampuan finansial
- konsep acara
- mana kebutuhan dan mana gengsi
maka banyak konflik sebenarnya bisa dicegah.
Media Sosial Membuat Standar Semakin Berat
Tidak bisa dipungkiri, media sosial ikut membentuk ketakutan generasi muda.
Timeline dipenuhi:
- ballroom mewah
- dekorasi ratusan juta
- cinematic wedding
- gaun mahal
- WO premium
- pesta megah
Padahal yang ditampilkan hanya satu hari terbaik.
Tidak ada yang memperlihatkan:
- tagihan setelah pesta
- utang keluarga
- tekanan finansial
- stres setelah menikah
Akhirnya banyak orang lupa:
Pernikahan bukan konten. Pernikahan adalah ibadah panjang.
Sederhana Itu Terhormat
Hari ini generasi muda perlu mulai berani mengatakan:
“Saya menikah sesuai kemampuan saya.”
Dan itu bukan sesuatu yang memalukan.
Justru yang mulia adalah:
- menjaga diri dari zina
- menyegerakan halal
- hidup sesuai kemampuan
- tidak membebani orang tua
- tidak hidup dalam gengsi palsu
Karena rumah tangga yang tenang tidak dibangun dari megahnya pelaminan.
Tetapi dari:
- tanggung jawab
- kesabaran
- kerja sama
- keberkahan
- dan kejujuran menjalani hidup
Menikahlah Jika Sudah Siap Bertanggung Jawab
Generasi muda hari ini perlu kembali melihat pernikahan secara realistis dan syar’i.
Tidak perlu menunggu kaya raya.
Tidak perlu menunggu pesta sempurna.
Tidak perlu takut tidak terlihat mewah.
Karena orang yang benar-benar sayang kepada kita tidak akan mengukur kebahagiaan dari dekorasi.
Dan orang yang menghina kesederhanaan biasanya memang hidup terlalu dekat dengan gengsi.
Menikah sederhana bukan tanda kemiskinan.
Tetapi sering kali tanda keberanian:
berani hidup jujur sesuai kemampuan.
Maka jika hari ini ada pasangan muda yang memilih:
- akad sederhana
- walimah sederhana
- tanpa utang
- tanpa gengsi
- tanpa maksiat
maka sebenarnya mereka sedang menjaga kehormatan diri mereka sendiri.
Dan mungkin, di tengah zaman penuh pencitraan ini, kesederhanaan justru menjadi kemewahan yang paling langka.
BREAKDOWN BIAYA NIKAH SEDERHANA
• Baju pengantin pria & wanita + make up Rp800.000
• Hand bouquet Rp80.000
• Nail art Rp85.000
• Dekorasi sederhana gotong royong bersama teman Rp300.000
• Konsumsi keluarga & tetangga Rp5.000.000
━━━━━━━━━━━━━━━
TOTAL ESTIMASI ± Rp6.915.000
━━━━━━━━━━━━━━━
“Alhamdulillah sah.”
Tanpa utang besar.
Tanpa gengsi berlebihan.
Tanpa memaksakan diri demi validasi sosial.
This post has been viewed 361 times.
