Bukan Antre Tiket Konser, Ratusan Orang Tua di Jogja Rela Menginap Demi Kursi Bimbel
YOGYAKARTA – Pemandangan tak biasa terjadi di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Ratusan orang tua rela datang sejak subuh, bahkan sebagian memilih menginap, demi mendapatkan nomor antrean pendaftaran bimbingan belajar (bimbel).
Fenomena tersebut terjadi di Bimbel Exist pada Selasa (1/9/2026). Antrean panjang para orang tua kemudian menjadi perhatian dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Jika biasanya antrean panjang identik dengan tiket konser, sembako, atau barang yang sedang diburu masyarakat, kali ini orang tua justru rela mengantre demi mendapatkan tempat belajar tambahan untuk anak mereka.
Kuota yang tersedia di Bimbel Exist disebut terbatas, yakni sekitar 400 peserta. Kondisi tersebut membuat persaingan mendapatkan nomor pendaftaran semakin tinggi.
Rela Datang Sejak Subuh
Gambar ilustrasi
Sejumlah orang tua bahkan datang ketika hari masih gelap untuk memastikan mendapatkan nomor antrean.
Mereka tidak hanya berasal dari orang tua yang baru mencari tempat les untuk anak. Sebagian memang sudah mempersiapkan pendidikan anak sejak jauh hari, terutama bagi siswa yang nantinya akan menghadapi jenjang pendidikan dan ujian yang menentukan.
Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya perhatian orang tua terhadap persiapan akademik anak.
Bagi sebagian orang tua di Yogyakarta, pendidikan tambahan dianggap sebagai salah satu upaya untuk membantu anak menghadapi persaingan masuk sekolah serta ujian akademik.
Para siswa nantinya menghadapi Asesmen Standardisasi Pendidikan Daerah (ASPD) maupun Tes Kemampuan Akademik (TKA) DIY. Nilai tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam proses masuk SMA melalui jalur yang tersedia.
Bukan Sekadar Mengejar Nilai
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY Raden Suci Rohmadi mengatakan fenomena antrean tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai tanda adanya ketimpangan kualitas antar-SMA negeri di Yogyakarta.
Menurutnya, setiap sekolah memiliki karakteristik, lingkungan belajar, program, budaya, dan keunggulan masing-masing.
Pilihan orang tua terhadap sekolah juga dapat dipengaruhi pengalaman serta persepsi yang berkembang di masyarakat.
Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan mutu pendidikan agar kualitas sekolah semakin merata.
Suci juga mengingatkan agar keberhasilan pendidikan anak tidak hanya dikaitkan dengan apakah seorang siswa berhasil masuk ke sekolah tertentu atau tidak.
Persepsi Sekolah Favorit Masih Kuat
Fenomena antrean bimbel juga tidak terlepas dari kuatnya persepsi mengenai sekolah favorit.
Menurut Suci, sebagian orang tua masih membawa pandangan dari masa lalu bahwa sekolah tertentu memiliki kualitas lebih baik dibandingkan sekolah lainnya.
Padahal, pemerintah daerah menilai kualitas SMA negeri di DIY terus didorong agar semakin merata.
Persepsi tersebut tidak mudah berubah dalam waktu singkat karena dapat terbentuk dari pengalaman, sejarah, prestasi, maupun informasi yang berkembang selama bertahun-tahun.
Karena itu, orang tua dan siswa dinilai perlu mendapatkan informasi yang lebih lengkap sebelum menentukan pilihan sekolah.
Informasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan nama atau reputasi sekolah, tetapi juga program pendidikan, lingkungan belajar, prestasi, kegiatan pengembangan minat dan bakat, serta keunggulan yang dimiliki masing-masing sekolah.
Bimbel Jadi Pilihan Persiapan Anak
Tingginya minat terhadap bimbingan belajar menunjukkan bahwa sebagian orang tua masih melihat pendidikan tambahan sebagai bagian dari persiapan anak.
Suci memahami langkah tersebut sebagai bentuk ikhtiar orang tua dalam membantu anak menghadapi ASPD maupun TKA.
Namun, persiapan pendidikan tetap diharapkan dilakukan secara proporsional.
Anak tidak seharusnya merasa bahwa masuk sekolah tertentu merupakan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Selain kemampuan akademik, pendidikan juga berkaitan dengan karakter, kemandirian, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta kenyamanan anak dalam menjalani proses belajar.
Fenomena “war kursi” bimbel di Yogyakarta akhirnya bukan sekadar cerita tentang panjangnya antrean orang tua. Di baliknya terdapat gambaran mengenai besarnya perhatian keluarga terhadap pendidikan anak dan kuatnya persaingan untuk mendapatkan pendidikan yang dianggap sesuai.
Antusiasme tersebut juga menjadi pengingat bahwa pilihan pendidikan sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan dan potensi anak, bukan semata-mata karena mengikuti anggapan bahwa satu sekolah atau satu lembaga tertentu pasti lebih baik.
Dengan demikian, antrean panjang di Bimbel Exist menjadi fenomena yang menarik perhatian karena memperlihatkan bagaimana orang tua rela meluangkan waktu dan tenaga demi mempersiapkan masa depan pendidikan anak mereka.
Sumber Referensi : kumparanNEWS, laporan tentang fenomena “war kursi” bimbel di Yogyakarta dan tanggapan Disdikpora DIY.
This post has been viewed 18 times.
