Adab di Pemakaman: Sunnah-Sunnah yang Mulai Terlupa
Melambat Sejenak di Depan Kuburan: Sunnah Kecil yang Mulai Terlupa
Kemarin saya melakukan perjalanan menuju rumah Ayah dan Ibu. Saat melewati Tumiyang, arus lalu lintas tersendat karena kerusakan jembatan akibat longsor. Kendaraan bergerak perlahan. Di sisi jalan tampak sebuah area pemakaman.
Pemandangan itu tiba-tiba mengingatkan saya pada kebiasaan sederhana seorang teman, seorang sopir yang pernah bekerja di Arab Saudi.
Setiap kali kendaraan yang kami tumpangi melewati area pemakaman, ia akan memperlambat laju mobil. Tidak berhenti lama, hanya melambat sejenak. Lalu lisannya mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada para peziarah kubur:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
“Semoga keselamatan tercurah atas kalian wahai penghuni negeri dari kalangan mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian.”
Doa ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim dari sahabat Buraidah bin Al-Hushaib.
Ketika saya bertanya dari mana kebiasaan itu berasal, ia bercerita bahwa dahulu majikannya di Saudi mengajarkannya. Setiap kali melewati pemakaman, sang majikan berkata, “suwayya… mahlan…” — pelan-pelan. Setelah membaca salam kepada ahli kubur, perjalanan pun dilanjutkan seperti biasa.
Hanya kebiasaan kecil.
Namun justru kesederhanaan itulah yang membekas.
Ia mengingatkan bahwa kuburan bukan sekadar hamparan tanah yang menyimpan jasad. Ia adalah tempat ibrah, tempat hati dilunakkan, tempat manusia diingatkan tentang akhir perjalanan dunia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ia mengingatkan kepada akhirat.”
Hadits shahih ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah.
Karena itulah, para ulama menjelaskan bahwa keberadaan di area pemakaman hendaknya menghadirkan ketenangan, kekhusyukan, dan perenungan.
Di antara adab yang sering dibahas para ulama adalah masalah memakai alas kaki saat berjalan di antara kuburan.
Ada hadits shahih dari Basyir bin Al-Khashashiyah bahwa Rasulullah ﷺ melihat seorang lelaki berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal, lalu beliau bersabda:
“Wahai pemilik dua sandal, lepaskan kedua sandalmu.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Sunan Abi Dawud.
Namun para ulama berbeda pendapat dalam memahaminya.
Sebagian memandangnya sebagai adab yang dianjurkan sebagai bentuk penghormatan dan ketundukan ketika berada di tempat peristirahatan kaum muslimin.
Sebagian lainnya memahami bahwa larangan tersebut terkait keadaan tertentu, sehingga tidak menunjukkan kewajiban mutlak.
Karena itu, sikap yang lebih pertengahan adalah memandang melepas sandal sebagai adab yang baik jika memungkinkan, bukan kewajiban yang harus dipaksakan dalam setiap keadaan, terlebih bila ada kebutuhan seperti tanah yang panas, berbatu, berlumpur, atau kondisi lain yang menyulitkan.
Hal ini juga tidak bertentangan dengan hadits lain dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, bahwa mayit mendengar bunyi sandal orang-orang yang meninggalkannya setelah pemakaman.
Hadits tersebut adalah pemberitahuan tentang keadaan mayit di alam kubur, bukan dalil anjuran untuk tetap memakai sandal.
Jika kedua hadits ini dipahami bersama, justru keduanya mengajarkan satu pesan: kuburan adalah tempat yang menuntut adab dan ketenangan.
Adab lain yang juga sering terlupakan adalah menjaga suasana khusyuk dan menghindari senda gurau berlebihan.
Memang tidak ada hadits shahih yang secara khusus berbunyi, “Jangan tertawa di kuburan.” Namun tujuan syariat ziarah kubur adalah menghadirkan renungan, bukan menjadikannya tempat canda dan gelak tawa.
Para ulama seperti Yahya bin Syaraf an-Nawawi menjelaskan bahwa peziarah dianjurkan menghadirkan hati, merenungi keadaan penghuni kubur, dan mengambil pelajaran.
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.”
(Al-Qur’an)
Bagaimana mungkin seseorang berdiri di hadapan tempat peristirahatan orang-orang yang telah selesai urusan dunianya, tetapi justru larut dalam kelalaian?
Adab lainnya adalah tidak duduk di atas kuburan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya dan mengenai kulitnya, itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kubur.”
Hadits ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim.
Semua adab ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan penghormatan kepada seorang muslim, bahkan setelah ia wafat.
Sayangnya, sebagian sunnah ini mulai asing.
Padahal menghidupkan sunnah sering kali bukan melalui perkara besar.
Kadang cukup dengan memperlambat kendaraan ketika melewati kuburan.
Kadang cukup dengan menundukkan suara.
Kadang cukup dengan menjaga langkah dan adab.
Kadang cukup dengan mengucapkan salam kepada mereka yang telah lebih dahulu mendahului.
Hal-hal kecil seperti ini, jika dilakukan dengan ilmu dan niat ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ, bisa menjadi bagian dari ihyā’us sunnah.
Barangkali sebagian orang menganggapnya sepele.
Namun bisa jadi, dari kebiasaan kecil itulah hati menjadi lebih hidup, lebih lembut, dan lebih sadar bahwa suatu hari nanti, suara langkah dan sandal orang lainlah yang akan menjauh meninggalkan kita.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga sunnah, meski ia tampak asing di tengah manusia.
This post has been viewed 151 times.
