Ketika Anak Muda Mulai Bertanya: Masihkah Layak Bermimpi Membangun Indonesia?

Ketika Anak Muda Mulai Bertanya: Masihkah Layak Bermimpi Membangun Indonesia?

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan anak muda berbakat.

 

Di berbagai daerah, banyak anak muda yang tumbuh dari keterbatasan namun mampu menghasilkan karya yang kompetitif. Ada yang membangun teknologi, mengembangkan usaha kreatif, menciptakan inovasi pertanian, hingga merintis startup berbasis teknologi.

 

Salah satu kisah menarik datang dari sebuah tim pengembangan drone bernama Capungaero.

 

Berawal dari hobi menerbangkan drone sejak 2010, tim ini perlahan berkembang menjadi penyedia jasa pemetaan udara dengan pengalaman yang tidak sedikit. Mereka pernah mengikuti berbagai kompetisi, mendapatkan kesempatan studi banding ke luar negeri, hingga pernah terlibat dalam forum startup yang mempertemukan inovator Indonesia dengan investor internasional bersama tokoh-tokoh startup nasional seperti Nadiem Makarim.

 

Secara portofolio, perjalanan mereka cukup menjanjikan.

 

Namun menariknya, mereka justru memilih untuk tidak melanjutkan ekspansi bisnis secara agresif. Perusahaan tersebut tidak berkembang menjadi startup besar, melainkan tetap berjalan sebagai penyedia jasa yang lebih sederhana.

 

Alasannya bukan karena kurang pengalaman lapangan.

 

Mereka pernah bekerja di medan yang tidak mudah: masuk ke kawasan hutan, melakukan pemetaan di wilayah terpencil, hingga menghadapi tantangan geografis dan sosial yang kompleks.

 

Tantangan terbesarnya justru muncul ketika berhadapan dengan aspek non-teknis.

 

Sebagian pelaku usaha rintisan di Indonesia kerap mengeluhkan rumitnya birokrasi, panjangnya proses administrasi, ketidakpastian proyek, hingga ekosistem bisnis yang kadang membuat inovator kecil kesulitan berkembang secara sehat.

 

Tentu pengalaman setiap orang berbeda-beda, dan tidak bisa digeneralisasi terhadap seluruh institusi. Banyak juga aparatur negara, investor, dan mitra bisnis yang bekerja secara profesional serta berintegritas.

 

Namun tidak bisa dimungkiri, persepsi tentang rumitnya ekosistem ini menjadi salah satu alasan mengapa sebagian inovator memilih bermain aman.

 

Alih-alih membangun perusahaan besar, mereka lebih memilih menjadi konsultan kecil, freelancer, atau bahkan menutup ambisi ekspansi sama sekali.

 

 

 

Krisis yang lebih berbahaya: hilangnya optimisme

 

Persoalan terbesar hari ini mungkin bukan sekadar soal lapangan kerja.

 

Yang lebih mengkhawatirkan adalah menurunnya optimisme sebagian generasi muda terhadap masa depan di negeri sendiri.

 

Fenomena ini terlihat dari semakin banyak anak muda yang bercita-cita bekerja di luar negeri seperti Singapore, Australia, Japan, South Korea, hingga Malaysia.

 

Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai kurangnya nasionalisme.

 

Padahal bagi banyak anak muda, keputusan tersebut sering kali lahir dari pertimbangan pragmatis: mencari sistem kerja yang lebih stabil, meritokratis, dan memiliki kepastian karier.

 

Ini bukan berarti mereka tidak mencintai Indonesia.

 

Sebaliknya, banyak yang justru merasa sedih karena ingin berkontribusi, tetapi belum menemukan ekosistem yang cukup mendukung.

 

 

 

Nasionalisme tidak cukup dibangun lewat slogan

 

Kita sering mendengar ajakan seperti:

 

“Bangga buatan Indonesia.”

“Cintai produk lokal.”

“Anak muda harus membangun negeri.”

 

Pesan tersebut tentu baik.

 

Namun generasi muda juga membutuhkan bukti bahwa kerja keras, integritas, dan inovasi benar-benar mendapatkan ruang tumbuh.

 

Mereka ingin melihat:

 

birokrasi yang efisien

 

regulasi yang jelas

 

peluang usaha yang sehat

 

kompetisi yang adil

 

perlindungan bagi inovator kecil

 

 

Ketika sistem terasa adil, rasa memiliki terhadap bangsa akan tumbuh dengan sendirinya.

 

 

 

Indonesia masih punya harapan

 

Kabar baiknya, Indonesia masih memiliki sumber daya manusia yang luar biasa besar.

 

Talenta-talenta muda kita mampu bersaing secara global.

 

Tantangan kita hari ini bukan menciptakan generasi hebat — karena mereka sudah ada.

 

Tantangan terbesarnya adalah memastikan mereka tetap percaya bahwa masa depan terbaik mereka masih bisa dibangun di Indonesia.

 

Karena jika terlalu banyak anak muda kehilangan harapan, maka yang pergi bukan hanya tenaga kerja terbaik.

 

Kita juga bisa kehilangan mimpi-mimpi besar yang seharusnya tumbuh di negeri ini.

This post has been viewed 147 times.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.