Nemu Kalung, Gelang, Cincin Emas, Boleh Langsung Dijual?
Bandul Emas, Rezeki Nomplok, atau Ujian Kejujuran? Netizen Terbelah Antara Khurafat dan Fikih Barang Temuan
Media sosial lagi-lagi menghadirkan kisah yang di satu sisi bikin tertawa, di sisi lain membuat kita menghela napas panjang.
Seorang wanita bercerita bahwa ada anak tetangga sedang bermain boneka di teras rumahnya. Saat diperhatikan, si anak memegang sebuah bandul atau liontin yang ia temukan di jalan depan rumah.
Wanita itu spontan bertanya, “Itu bandul punya siapa?”
Anak kecil itu menjawab polos, “Tadi aku nemu di jalan depan rumah tante.”
Mendengar jawaban itu, pikirannya langsung melompat cukup jauh:
“Siapa tahu ini emas. Kalau emas, duit sudah di depan mata.”
Lalu terjadilah negosiasi yang absurd sekaligus jujur:
“Boleh nggak bandulnya tante tuker sama uang 100 ribu?”
Respons si anak justru lebih santai lagi:
“Ambil aja tante, bandulnya jelek.”
Bandul dilempar ke tangan sang tante. Anak itu mengambil uang seratus ribu, lalu pergi ke warung membeli jajan.
Di titik ini, internet mulai terbelah.
Sebagian orang fokus pada kemungkinan itu emas atau bukan. Sebagian lagi menyoroti etika mengambil barang temuan. Namun ada satu komentar yang sukses membuat banyak orang tertawa sekaligus prihatin:
“Kalau nemu barang di jalan jangan pikir untung dulu. Siapa tahu itu buang sial. Biasanya harus diganti sesuatu di lokasi nemunya, lalu dilangkahi tujuh kali supaya sialnya pindah. Saya pernah nemu uang dua ribu, terus setelah itu gagal ambil kiriman uang dua juta dari Western Union…”
Di sinilah kita melihat dua problem besar di masyarakat: terlalu cepat mengincar untung, dan masih suburnya keyakinan khurafat.
Khurafat Masih Laku di Era Digital
Konsep “barang buang sial”, ritual melangkahi tujuh kali, atau harus menaruh uang pengganti di lokasi temuan tidak memiliki dasar dalam Islam.
Ini hanyalah warisan tahayul yang terus hidup karena diceritakan turun-temurun tanpa ilmu.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada kesialan karena tanda-tanda tertentu.”
Islam memotong akar takhayul semacam ini. Musibah terjadi karena takdir Allah, bukan karena kita menemukan uang receh di jalan.
Kalau kiriman uang gagal cair dua bulan kemudian, itu bukan karena uang dua ribu yang ditemukan di jalan. Itu namanya cocoklogi yang dipelihara.
Namun Mengambil Barang Temuan Juga Tidak Bisa Semaunya
Di sisi lain, tindakan langsung berpikir “kalau emas berarti untung besar” juga problematis.
Dalam fikih Islam, barang temuan disebut luqathah.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa barang temuan bernilai harus dijaga, diumumkan, dan dicari pemiliknya.
Kalau pemilik datang dengan ciri yang benar, barang harus dikembalikan.
Bukan langsung dianggap:
“Rezeki nih.”
Apalagi dalam kisah ini barang itu ditemukan oleh anak kecil. Anak tersebut pada dasarnya bukan pemilik sah barang tersebut. Maka transaksi “ditukar seratus ribu” juga menjadi bermasalah.
Mentalitas Rezeki Nomplok
Kisah ini sebenarnya membuka kebiasaan yang cukup umum:
- nemu barang → dijual
- nemu uang → dipakai
- nemu barang berharga → dianggap takdir kaya mendadak
Padahal bisa jadi di sisi lain ada orang yang sedang panik kehilangan cincin, liontin, atau barang kenangan keluarga.
Kita sering sangat ingin menjadi orang yang menemukan harta.
Tapi jarang membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang kehilangan.
Islam Datang di Tengah Dua Ekstrem
Islam tidak mengajarkan:
- percaya benda pembawa sial
- ritual aneh tanpa dalil
- menghubungkan musibah dengan barang temuan
Tapi Islam juga tidak mengajarkan:
- serakah
- asal ambil barang orang lain
- menghalalkan rezeki yang belum jelas statusnya
Jalan tengahnya sederhana:
- amankan barang
- cari pemiliknya
- umumkan sewajarnya
- simpan jika belum ada yang mengaku
Kalau benar-benar tidak ada yang mengaku setelah upaya yang wajar dilakukan, barulah dibahas hukum berikutnya.
Pelajaran dari Sebuah Bandul
Kadang satu benda kecil membuka masalah besar:
masalah akidah, masalah kejujuran, dan masalah cara masyarakat memahami rezeki.
Lucu karena kisahnya absurd.
Sedih karena ternyata masih banyak yang belum paham bahwa Islam sudah punya aturan yang jauh lebih rasional daripada mitos dan jauh lebih bersih daripada mental “cuan dadakan”.
Bandul itu mungkin emas.
Mungkin juga cuma aksesori biasa.
Tapi ujian sebenarnya justru bukan pada kadar emasnya.
Melainkan pada kadar iman dan kejujuran orang yang menemukannya.
This post has been viewed 319 times.
