Penghentian MBG Tidak Akan Menghentikan Peradaban Indonesia
Belakangan ini, muncul pernyataan yang cukup kuat bahwa penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa mengancam kelangsungan peradaban. Bahkan disebut bahwa tanpa pangan yang memadai, masyarakat tidak akan bertahan dan peradaban pun bisa punah. Pernyataan ini memang dramatis dan menyentuh emosi, tetapi menurut saya terlalu berlebihan (hiperbolis). Saya ingin menyampaikan sanggahan secara sopan dan berdasarkan fakta yang ada.
Peradaban manusia tidak pernah berdiri hanya di atas satu program pemerintah. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa bertahan dan berkembang karena kemampuan rakyatnya untuk mandiri, bekerja keras, dan didukung kebijakan yang tepat. Bukan karena makanan gratis dari negara. Mari kita bahas satu per satu dengan bahasa yang sederhana.
Pertama, kesejahteraan keluarga adalah fondasi utama. Jika keluarga Indonesia sejahtera — artinya punya penghasilan cukup, pekerjaan stabil, dan daya beli yang baik — maka orang tua pasti mampu membeli makanan bergizi untuk anak-anaknya tanpa harus menunggu bantuan gratis. Masalah gizi buruk dan stunting sebenarnya akarnya ada di kemiskinan dan ketidakmampuan ekonomi rumah tangga. Bukan karena tidak ada program MBG.
Konstitusi kita (UUD 1945) memang mewajibkan negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Tapi kesejahteraan yang dimaksud bukanlah distribusi makanan gratis secara terus-menerus. Lebih penting adalah menciptakan lapangan kerja yang layak, mendukung UMKM, meningkatkan pendidikan yang berkualitas, dan mengelola ekonomi agar harga bahan pokok terjangkau. Kalau hal-hal dasar ini berjalan baik, program seperti MBG bisa menjadi pelengkap sementara, bukan kebutuhan pokok seumur hidup.
Sekarang bayangkan: seorang ayah yang gajinya cukup, ibu yang bisa mengatur belanja rumah tangga dengan bijak. Mereka pasti bisa memilih sayur, protein, dan buah-buahan untuk anak. Mereka tidak perlu bergantung pada menu yang dikirim dari dapur pusat. Inilah yang disebut kemandirian. Kalau sebagian besar keluarga sudah seperti ini, maka penghentian MBG tidak akan menyebabkan kekacauan massal, apalagi kepunahan peradaban.
Kedua, akar masalahnya adalah kegagalan pemerintah dalam menyejahterakan rakyat. Banyak kalangan mengkritik bahwa MBG lahir karena pemerintah belum berhasil mengatasi kemiskinan secara struktural. Alih-alih memperkuat daya beli masyarakat melalui kebijakan ekonomi yang tepat, kita malah membuat program besar-besaran yang memakan anggaran triliunan rupiah setiap tahun. Anggaran itu sebenarnya bisa dialokasikan untuk infrastruktur produktif, pelatihan kerja, atau subsidi langsung yang lebih tepat sasaran.
Ini bukan berarti pemerintah boleh lepas tangan sepenuhnya. Negara tetap bertanggung jawab atas hak dasar rakyat, termasuk pangan. Namun, cara yang paling berkelanjutan adalah memberdayakan rakyat agar bisa berdiri sendiri, bukan menciptakan ketergantungan baru. Pernyataan bahwa tanpa MBG peradaban akan punah justru menyiratkan bahwa rakyat Indonesia dianggap tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Padahal, sejarah bangsa kita menunjukkan sebaliknya: masyarakat Indonesia tangguh menghadapi berbagai krisis.
Ketiga, MBG memiliki segudang masalah pelaksanaan dan kepentingan politis. Program sebesar MBG memang memiliki niat baik, tetapi pelaksanaannya menuai banyak kritik. Mulai dari isu kualitas makanan, distribusi yang tidak merata, dampak terhadap kantin sekolah lokal, hingga yang paling serius: dugaan korupsi.
Salah satu bukti nyata adalah penangkapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana beserta beberapa pejabat tinggi lainnya oleh Kejaksaan Agung. Mereka diduga terlibat dalam mark-up harga, penyimpangan pengadaan, dan penyalahgunaan anggaran program yang mencapai ratusan triliun rupiah. Kasus ini menunjukkan betapa rawannya program besar ketika pengawasan lemah dan ada kepentingan di baliknya.
Banyak pihak menyebut MBG sebagai “janji politik” yang kemudian menjadi proyek dengan potensi kebocoran besar. Ketika ada mark-up dan korupsi, yang dirugikan justru adalah anak-anak yang seharusnya mendapat makanan bergizi. Uang negara yang seharusnya untuk gizi malah mengalir ke kantong oknum. Inilah yang membuat banyak orang skeptis. Program yang dimaksudkan mulia justru tercemar oleh masalah tata kelola.
Selain itu, model pelaksanaan MBG yang terlalu sentralistik (dapur besar, distribusi massal) juga menimbulkan masalah praktis. Beberapa dapur sempat dihentikan sementara karena alasan keamanan pangan. Kantin sekolah kehilangan penghasilan, dan orang tua merasa kurang terlibat. Padahal, solusi yang lebih sederhana dan efektif sebenarnya sudah ada di sekitar kita.
Keempat, ada alternatif yang lebih baik dan berkelanjutan. Penghentian atau perubahan besar MBG tidak harus berarti mengabaikan gizi anak. Bisa dilakukan pendekatan yang lebih baik, yaitu melibatkan sekolah, kantin lokal, dan orang tua secara langsung.
Beberapa daerah sudah mengkaji pelibatan kantin sekolah dalam program gizi. Cara ini lebih cepat, makanan lebih segar, mendukung UMKM lokal, dan mengurangi birokrasi pusat yang mahal. Orang tua juga bisa dilibatkan melalui edukasi gizi, voucher, atau program kebun sekolah. Model seperti ini lebih memberdayakan masyarakat daripada hanya menjadi penerima bantuan.
Intinya, kita bisa tetap menjaga gizi anak-anak tanpa harus bergantung pada satu program raksasa yang rentan masalah. Fokus utama harus pada peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan. Kalau ekonomi keluarga kuat, akses pangan bergizi akan mengikuti dengan sendirinya.
Kesimpulan: Jangan hiperbolis, fokus pada solusi nyata Mengatakan bahwa penghentian MBG akan menghancurkan peradaban adalah pernyataan yang terlalu berlebihan. Peradaban Indonesia dibangun oleh kerja keras rakyat selama ratusan tahun, bukan oleh satu program pemerintah. Yang lebih berbahaya justru jika kita terus-menerus menciptakan ketergantungan, sementara akar masalah kemiskinan dan ketidakmandirian tidak disentuh.
Kita perlu kebijakan yang jujur dan berkelanjutan: transparansi anggaran, pemberantasan korupsi yang tegas, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan program gizi yang efisien serta melibatkan masyarakat. Bukan program yang besar di kertas tapi bobrok di pelaksanaan.
Sebagai warga negara, kita berhak mengkritik dan mengusulkan yang lebih baik. Bukan untuk menentang bantuan kepada yang membutuhkan, melainkan agar bantuan itu benar-benar efektif dan tidak menyimpang dari tujuan semula. Kesejahteraan yang sesungguhnya adalah ketika rakyat bisa membeli dan menyediakan kebutuhan sendiri dengan layak, bukan hanya menerima pemberian.
Dengan cara itu, peradaban kita justru akan semakin kuat — karena dibangun di atas fondasi kemandirian, bukan ketergantungan sementara. Mari kita dorong pemerintah untuk fokus pada solusi jangka panjang yang benar, bukan hanya program yang terdengar megah di permukaan.
This post has been viewed 7 times.

