Menjaga Kompas Moral di Tengah Badai Kemungkaran: Dari Jalanan hingga Jajaran BUMN
Pendahuluan: Sketsa Kegelisahan Kolektif
Pernahkah Anda merasa bahwa dunia di sekitar kita sedang berjalan ke arah yang keliru? Di satu hari, kita membuka media sosial dan disuguhi pemandangan tentang betapa murahnya jabatan-jabatan strategis negara dibagikan sebagai komoditas politik. Di hari lain, saat kita melangkah kaki ke ruang publik—seperti di dalam angkutan umum—kita langsung dihadapkan pada wajah kriminalitas yang mengintai hak-hak orang kecil.
Ada sebuah benang merah yang mengikat dua realitas yang tampak berbeda skala ini: krisis integritas.
Sebagai masyarakat awam, kita sering kali berdiri di persimpangan jalan yang membingungkan. Ketika melihat kemungkaran di depan mata, nurani kita bergolak. Kita ingin bertindak, tetapi sering kali terbentur oleh ketakutan akan keselamatan diri, atau rasa tidak berdaya yang akut saat berhadapan dengan raksasa sistemik. Artikel ini tidak hadir untuk sekadar meratapi keadaan, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana kita, sebagai individu atau “orang kecil”, dapat menavigasi kompas moral kita agar tetap tegak, berdampak, dan yang paling utama: tetap berada dalam koridor yang diridhoi oleh Allah SWT.
Bagian 1: Fenomena “Bagi-Bagi Jatah” dan Gugat Meritokrasi di Ruang Digital
Baru-baru ini, sebuah diskursus hangat membanjiri lini masa media sosial (seperti yang terekam dalam tangkapan layar image.png). Tokoh publik seperti Hilmi Firdausi (@Hilmi28) melontarkan kritik tajam mengenai tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang belakangan ini diwarnai oleh fenomena pengangkat komisioner atau komisaris berbasis patronase politik, bukan meritokrasi.
“Setelah si mbak-mbak timses usia 27 thn jadi komisaris, sekarang asistennya artis timses juga jadi komisaris. Jadi jangan aneh ya kalau kebanyakan BUMN merugi. Astaghfirullah… begini amat ya cara mengelola negara 😭” — Hilmi Firdausi (@Hilmi28)
Cuitan ini bukan sekadar letupan kekesalan personal, melainkan puncak gunung es dari keresahan publik yang mendalam. Frasa “mbak-mbak timses usia 27 thn” secara kontekstual mengarah pada sosok Tsamara Amany, eks kader PSI yang dalam dinamika Pilpres 2024 lalu masuk dalam jajaran tim pemenangan dan kemudian didapuk sebagai Komisaris Independen Holding PT Perkebunan Nusantara (PTPN III).
Ketika instansi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikelola dengan instrumen balas budi politik, dampak yang dihasilkan bukan sekadar angka kerugian di atas kertas laporan keuangan. Dampak psikologis dan sosialnya jauh lebih merusak:
1. Erosi Kepercayaan Publik
Masyarakat kehilangan kepercayaan bahwa sistem keadilan itu ada. Ketika aturan main dalam bernegara diganti oleh asas “kedekatan”, publik akan memandang skeptis setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
2. Demoralisasi Generasi Muda
Bagaimana kita bisa meyakinkan anak-anak muda untuk belajar keras, berinovasi, dan menjaga integritas jika realitas di tingkat tertinggi menunjukkan bahwa koneksi politik jauh lebih berharga daripada kompetensi? Ketika jalur instan lewat pintu belakang (shortcut) dipertontonkan tanpa rasa bersalah, standar moral masyarakat bawah lambat laun akan ikut tergradasi.
3. Ketimpangan Akses dan Rasa Keadilan
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu netizen (@MasBroTalks) di kolom komentar image.png, terjadi kontras yang menyakitkan. Rakyat jelata harus melewati berlapis-lapis seleksi yang luar biasa ketat, menguras energi, dan bersaing dengan ribuan orang hanya untuk posisi staf biasa di BUMN. Sementara itu, kursi puncak kepemimpinan yang menentukan arah perusahaan justru bisa diraih secara instan hanya karena faktor kedekatan dengan rezim.
Bagian 2: Dialektika Jalanan – Saat Moralitas Berhadapan dengan Risiko
Jika di level BUMN kemungkaran itu bersifat struktural dan berjarak, maka di level jalanan, kemungkaran itu bersifat langsung dan fisik. Mari kita bedah sebuah fragmen kejadian nyata yang sangat menarik sebagai studi kasus psikologi sosial dan moralitas terapan:
Suatu ketika, ada seseorang yang menyaksikan aksi percobaan pencopetan di dalam kendaraan umum. Didorong oleh rasa tidak puas di dalam hati melihat kejahatan tersebut, ia memutuskan untuk mengintervensi. Namun, alih-alih berteriak “Maling!” yang berpotensi memicu kekerasan massal atau konfrontasi fisik langsung, ia memilih cara yang tidak biasa: menggebrak pintu kendaraan dengan keras sambil tertawa lebar.
Aksi “menggebrak pintu sambil tertawa” ini adalah sebuah mahakarya taktik intervensi psikologis spontan. Dalam dunia psikologi, tindakan ini disebut pattern interrupter (pemutus pola). Pencopet bekerja dengan mengandalkan fokus yang tenang, presisi, dan situasi yang terprediksi. Ketika ada sebuah distraksi ekstrem yang tidak masuk akal (suara gebrakan keras dibarengi tawa), fokus pencopet seketika hancur. Ketakutan bahwa aksinya telah ketahuan membuat tangan yang sudah terulur langsung ditarik kembali. Calon korban selamat tanpa ada satu pun darah yang menetes.
Namun, drama jalanan tidak berhenti sampai di situ. Episode berikutnya menunjukkan bagaimana ekosistem kejahatan mencoba melakukan adaptasi dan negosiasi:
Di kesempatan lain, si pencopet kembali bertemu dengan sang penolong. Kali ini, si pencopet mendekat dengan gestur yang tampak ramah, menyodorkan sebatang rokok Dji Sam Soe, lalu membisikkan sebuah “kode etik” jalanan: “Kalau di jalan itu lihat apa-apa diam aja, nanti kan kebagian.” Sang penolong hanya meresponsnya dengan tawa.
Membedah Logika “Negosiasi Jalanan”
Mengapa pencopet itu tidak membalas dendam, melainkan menawarkan rokok dan “bagian”?
Pemetaan Risiko: Kriminal jalanan perlu tahu apakah orang yang mengganggunya adalah ancaman permanen (seperti intelijen/aparat) atau sekadar warga sipil yang kebetulan lewat.
Kooptasi Moral: Menawarkan rokok dan menjanjikan bagian hasil adalah taktik untuk menciptakan utang budi psikologis. Jika sang penolong menerima rokok tersebut dan mengiyakan kata-katanya, maka secara tidak langsung ia telah masuk ke dalam lingkaran lingkaran konspirasi diam (conspiracy of silence).
Sikap sang penolong yang hanya tertawa tanpa memberikan komitmen atau janji adalah respons yang sangat cerdas. Di satu sisi, ia tidak memprovokasi konflik fisik di tempat yang tidak aman, namun di sisi lain, ia menolak untuk menggadaikan prinsip moralnya demi sebatang rokok atau jatah uang haram. Ia menolak menjadi bagian dari komplotan.
Bagian 3: Menghadapi Dilema “Pahlawan Kesiangan” vs Bystander Effect
Setelah kejadian tersebut, muncul sebuah pertanyaan eksistensial yang sangat manusiawi di dalam benak sang penolong: Apakah di kemudian hari jika melihat kejadian serupa, saya harus diam saja, atau tetap berusaha menjadi “pahlawan kesiangan”?
Istilah “pahlawan kesiangan” sering kali digunakan secara pejoratif oleh masyarakat kita untuk menyindir orang yang dianggap sok pahlawan atau ikut campur. Padahal, apa yang dilakukan dalam cerita di atas adalah tindakan kepahlawanan yang murni. Isu sesungguhnya yang kita hadapi di era modern ini bukanlah menjamurnya pahlawan kesiangan, melainkan akutnya penyakit Bystander Effect (Efek Pengamat).
Bystander Effect adalah fenomena psikologis di mana seseorang cenderung diam dan tidak memberikan pertolongan saat melihat kedzaliman atau kecelakaan di ruang publik, karena mereka menganggap akan ada orang lain yang bertindak. Ketika semua orang berpikir demikian, maka terjadilah keheningan massal yang memberi ruang bagi kejahatan untuk merajalela.
Namun, kita juga harus realistis. Berbuat baik di jalanan tidak boleh dilakukan secara konyol tanpa perhitungan. Komplotan copet sering kali bekerja dalam tim terorganisasi. Ada yang bertugas mengeksekusi, menghalangi jalan, memprovokasi massa, hingga yang membawa senjata tajam. Oleh karena itu, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di level mikro membutuhkan strategi intervensi tidak langsung yang aman namun efektif:
Peta Strategi Intervensi Jalanan yang Aman
| Metode | Cara Kerja | Tingkat Risiko |
|---|---|---|
| Distraksi (Pengalihan) | Pura-pura menjatuhkan barang bawaan Anda, batuk dengan keras, atau menjatuhkan koin. Ini merusak momentum pelaku tanpa mengonfrontasinya. | Rendah |
| Pura-Pura Kenal | Menepuk pundak calon korban dan menyapa, “Eh bro, mau turun di halte mana?” Ini memutus ruang gerak pelaku secara instan. | Rendah – Sedang |
| Aliansi Otoritas | Membisiki kondektur, sopir, atau petugas keamanan secara diam-diam agar mereka yang mengambil tindakan formal. | Rendah |
Bagian 4: Sinergi Makro dan Mikro – Apa yang Bisa Dilakukan “Orang Kecil”?
Sekarang, mari kita tautkan kedua isi kepala ini: Jika di jalanan kita bisa menggebrak pintu untuk menghentikan copet, lalu apa yang bisa kita gebrak untuk menghentikan “pencopetan” uang rakyat dan hak meritokrasi di level BUMN?
Sangat wajar jika kita merasa kecil dan tidak berdaya. Struktur kekuasaan tampak begitu raksasa, dibentengi oleh regulasi, modal, dan jaringan politik yang gurita. Namun, sejarah selalu membuktikan bahwa perubahan besar tidak pernah dimulai dari puncak menara gading, melainkan dari akumulasi keresahan di tingkat akar rumput.
Dalam khazanah spiritual Islam, Rasulullah SAW memberikan panduan yang sangat aplikatif dan presisi dalam menghadapi tingkatan kemungkaran:
“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya). Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya (ucapannya/kritiknya). Dan jika dia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (membencinya), dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Sebagai “orang kecil” yang tidak memegang pena kekuasaan untuk menandatangani SK pembatalan komisaris BUMN, kita tidak berada di level “tangan”. Namun, kita sama sekali tidak dilarang untuk bergerak di level “lisan” dan “hati” secara terorganisasi dan cerdas. Berikut adalah bentuk sinergi nyata yang bisa kita lakukan:
1. Amunisi Digital: Mengubah “Lisan” Menjadi Gelombang Tekanan Publik
Di era media sosial, lisan kita telah bermutasi menjadi jempol, ketikan, dan share. Satu orang yang bersuara mungkin akan dianggap sepi, tetapi ketika ribuan “orang kecil” menyebarkan konten yang objektif, berbasis data, dan konsisten, hal itu akan menciptakan apa yang disebut sebagai public pressure (tekanan publik).
Jangan meremehkan kekuatan membagikan, menyukai, atau mengomentari sebuah kritik yang sehat. Ketika sebuah isu tata kelola negara menjadi viral dan memicu sentimen negatif yang masif, para penguasa dan pembuat kebijakan sering kali terpaksa melakukan evaluasi internal demi menjaga stabilitas citra politik mereka.
2. Memutus Mata Rantai Nepotisme dari Unit Terkecil
Kerusakan sistemik di level BUMN sebenarnya adalah cerminan hiperbola dari budaya keseharian masyarakat kita. Praktik mencari “orang dalam” untuk meloloskan anak masuk sekolah, menyuap oknum petugas saat ditilang, atau menggunakan jalan pintas dalam pengurusan birokrasi adalah benih-benih kecil dari pohon nepotisme raksasa yang kita saksikan di level atas.
Tugas kita sebagai orang kecil adalah memastikan bahwa pohon itu mati di halaman rumah kita sendiri. Didiklah keluarga kita untuk menghargai proses, mencintai kompetensi, dan bangga pada pencapaian yang diraih lewat jalur yang bersih. Jika masyarakat bawah sudah muak dengan cara-cara curang, maka pasokan manusia-manusia bermental korup ke tingkat atas lambat laun akan terputus.
3. Menggunakan “Kekuasaan” Terkecil: Hak Pilih dan Hak Konsumen
Kita mungkin bukan menteri, tetapi kita adalah konsumen dan pemilik sah hak suara di negeri ini.
Sebagai Konsumen: Jika ada produk-produk dari entitas yang jelas-jelas dikelola secara tidak amanah, korup, dan merugikan publik, sementara ada opsi swasta atau alternatif lain yang lebih transparan dan profesional, gunakan hak konsumen Anda untuk bermigrasi.
Sebagai Warga Negara: Momentum politik (Pemilu/Pilkada) adalah saat di mana “orang kecil” memegang kendali atas nasib para “orang besar”. Gunakan hak pilih Anda secara kritis. Jangan gadaikan masa depan bangsa hanya demi amplop serangan fajar atau janji-janji populis yang tidak rasional. Pelajari rekam jejak mereka terkait komitmen pemberantasan korupsi dan penegakan meritokrasi.
Bagian 5: Kesimpulan dan Penutup Reflektif – Berbuat Terbaik demi Ridho Allah
Sahabat pembaca, pada akhirnya, seluruh perjalanan hidup kita di dunia ini adalah tentang mengumpulkan lembar-lembar pertanggungjawaban di hadapan Mahkamah Ilahi. Ketika kita melihat kemungkaran—baik itu seorang pencopet yang sedang mengulurkan tangannya di angkutan umum, maupun seorang pejabat yang menyalahgunakan wewenangnya di atas kursi empuk BUMN—tuntutan utama Allah kepada kita bukanlah apakah kita berhasil mengubah dunia ini menjadi sempurna dan bersih total.
Tuntutan Allah kepada kita adalah: Apa yang sudah kita lakukan sesuai dengan batas kemampuan yang telah Dia titipkan kepada kita?
Dunia ini adalah panggung ujian. Ketika Anda memilih untuk tidak diam saat melihat aksi kejahatan di jalanan, ketika Anda memilih untuk menolak tawaran sebatang rokok kesepakatan damai dari pelaku maksiat, Anda sedang menuliskan catatan emas di hadapan-Nya. Anda sedang membuktikan bahwa di dalam dada Anda, ada iman yang berdenyut aktif, bukan iman yang pasif dan apatis.
Jangan pernah merasa lelah menjadi orang baik, dan jangan pernah merasa kecil hati hingga menganggap usaha kita sia-sia. Ingatlah kisah burung pipit yang membawa tetesan air dengan paruh kecilnya untuk mencoba memadamkan api raksasa yang membakar Nabi Ibrahim AS. Ketika cicak mengejeknya dan berkata bahwa tindakannya tidak akan mengubah apa pun, burung pipit itu menjawab dengan anggun:
“Aku tahu air ini tidak akan mampu memadamkan api yang besar itu. Namun dengan ini, aku menegaskan di pihak mana aku berdiri, dan agar Allah menyaksikan apa yang aku lakukan dengan seluruh keterbatasan kemampuan yang aku miliki.”
Mari kita jaga kompas moral kita agar tetap bersih. Berbuatlah sebaik-baiknya di mana pun posisi kita saat ini. Jika Anda seorang pedagang, berdaganglah dengan jujur. Jika Anda seorang karyawan, bekerjalah dengan integritas. Jika Anda melihat kedzaliman, intervensilah dengan cara yang paling cerdas dan aman yang Anda bisa.
Dengan menjaga diri kita tetap konsisten berada di jalur perjuangan melawan kemungkaran—sekecil apa pun skalanya—kita sedang mengamankan satu hal yang paling berharga dari seluruh keduniawian ini: Posisi yang diridhoi oleh Allah SWT. Dan ketika Ridho-Nya sudah kita kantongi, maka apa pun yang terjadi pada dunia di sekitar kita, jiwa kita akan tetap tenang, tenteram, dan selamat, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Tetaplah teguh, tetaplah cerdik, dan jangan pernah berhenti menjadi pahlawan di ranah terbaik yang Anda miliki.
This post has been viewed 23 times.
How useful was this post?
Click on a star to rate it!
Average rating 0 / 5. Vote count: 0
No votes so far! Be the first to rate this post.

