Di Antara Kritik Pedas, Loyalitas Buta, dan Sikap Seorang Muslim yang Ingin Adil

palu keadilanTimeline media sosial kita hari ini sering terasa seperti arena gladiator.

Di satu sisi ada pendukung tokoh politik yang seolah tidak rela satu pun idolanya dikritik. Apa pun kebijakannya dianggap benar. Apa pun ucapannya dianggap visioner.

Di sisi lain ada pengkritik keras seperti akun “lambe saham” yang setiap narasi pemimpin dibedah dengan nada tajam, satir, bahkan kadang sangat sinis.

Ketika Prabowo Subianto mengatakan dirinya bangun dini hari memantau perkembangan global, sebagian orang terkesan. Sebagian lain langsung menyindir: “Bangun jam 3 pagi itu gampang, yang susah hasilnya mana?”

Dan jujur, kritik semacam itu ada benarnya.

Rakyat memang berhak menilai hasil nyata:
harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, keadilan hukum, daya beli, dan stabilitas hidup mereka.

Kalau hidup makin sulit, maka narasi kerja keras seorang pemimpin akan terdengar seperti slogan kosong.

Tapi di titik lain, seorang muslim—terlebih yang berusaha belajar manhaj salaf meski masih sangat pemula—juga harus berhati-hati agar tidak terjatuh pada kebiasaan lisan yang melampaui batas.

Karena kritik boleh, tapi celaan tanpa ilmu, tuduhan tanpa bukti, serta kebiasaan menikmati kerusakan reputasi orang lain adalah perkara lain.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan…”
(QS. An-Nisa: 135)

Adil itu berat.

Kadang adil membuat kita terlihat kurang “revolusioner” di mata oposisi.

Kadang adil juga membuat kita terlihat kurang “loyal” di mata pendukung pemerintah.

Padahal seorang muslim tidak dibangun di atas fanatisme kubu.

Kita boleh mengatakan:

“Ya, ada kebijakan pemerintah yang patut diapresiasi.”

Dan di saat yang sama juga boleh mengatakan:

“Ya, masih banyak masalah nyata yang belum selesai.”

Itu jauh lebih sehat daripada dua ekstrem:

Ekstrem pertama: semua pemerintah pasti zalim.
Ekstrem kedua: semua pemerintah pasti benar.

Ahlusunnah diajarkan untuk tidak mudah memberontak dengan lisan, tidak gemar provokasi, tidak ikut menyulut kekacauan. Tapi bukan berarti buta terhadap realita.

Kalau harga naik, rakyat mengeluh, PHK meningkat, maka itu realita yang boleh dibicarakan dengan cara yang beradab.

Kalau ada kebijakan baik, maka akui juga.

Kalau ada kebijakan buruk, kritik dengan data, adab, dan doa agar diperbaiki.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan bahwa enam puluh tahun di bawah pemimpin zalim masih lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin, karena chaos sering melahirkan kerusakan yang jauh lebih besar.

Ini bukan ajakan pasif.

Justru ini pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari caci maki politik setiap hari.

Sebagai hamba:
perbaiki shalat kita, perbaiki kejujuran kita, jauhi korupsi kecil yang sering dianggap sepele.

Sebagai warga negara:
taat pada aturan yang ma’ruf, berkontribusi lewat pekerjaan yang halal, edukasi masyarakat dengan jujur, dan jika mengkritik maka lakukan dengan ilmu.

Sebagai muslim:
doakan pemimpin agar diberi hidayah, keadilan, dan penasihat yang baik.

Para ulama salaf dahulu mendoakan kebaikan untuk penguasa, bukan karena semua penguasa sempurna, tetapi karena rusaknya pemimpin sering ikut menyeret rakyat.

Mungkin kita bukan pejabat.

Mungkin kita bukan pengusaha besar.

Mungkin kita bukan tokoh oposisi viral.

Tapi kita tetap bisa menjadi orang yang jujur di lingkup kecil kita:
tidak ikut menyebar fitnah,
tidak menelan propaganda mentah-mentah,
tidak mabuk pujian kepada tokoh,
dan tidak menjadikan kebencian sebagai kompas berpikir.

Di zaman yang penuh kebisingan opini ini, bisa jadi bentuk keberanian terbesar adalah tetap adil.

Melihat kenyataan apa adanya.

Mengakui kebaikan jika ada.

Mengkritik keburukan jika nyata.

Dan tetap mengangkat tangan di sepertiga malam:

“Ya Allah, perbaikilah negeri kami. Perbaikilah pemimpin kami. Dan perbaikilah diri kami sendiri sebelum kami sibuk menuntut orang lain berubah.”

This post has been viewed 127 times.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 3 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.